Jejak Langkah Menuju UTAMA
Setiap kali melewati gerbang SMP Negeri 1 Gending, mata BRIYANTO selalu tertuju pada spanduk besar bertuliskan "UTAMA : Unggul, Terampil, Agamis, Mandiri, dan Anti Narkoba." Bagi siswa kelas 8 ini, kata "UTAMA" dulu hanyalah pajangan hiasan dinding. Briyan yang dulu adalah remaja mencari perhatian—sering terlambat, nilai pas-pasan, dan mudah terpengaruh pergaulan jalanan yang tak jelas ... selanjutnya klik ini
Pagi itu, sinar matahari merobos di balik pepohonan rindang SMP Negeri 1 Gending. Di depan ruang kelas 8D, Briyan berdiri mengamati lantai teras yang berdebu dan sampah kertas yang berserakan di pojok ruangan. Sebagai siswa yang berkomitmen menerapkan nilai-nilai sekolah, Briyan sadar bahwa karakter UTAMA (Unggul, Terampil, Agamis, Mandiri, dan Anti Narkoba) tidak hanya tercermin dari nilai akademis atau keberanian menolak zat berbahaya, melainkan juga dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Selanjutnya .. klik ini
Sore itu, suasana di lapangan terbuka luar gerbang SMP Negeri 1 Gending terasa tegang. Briyan berdiri berhadapan dengan Mike, Iwan, Zain, Tomi, serta empat teman lainnya. Selisih paham kecil saat pertandingan sepak bola antarkampung tadi siang memicu percikan amarah. Mike yang emosional mengepalkan tangan, menuduh Briyan bermain curang, sementara Iwan dan Tomi mulai memprovokasi suasana agar terjadi perkelahian.
Selanjutnya klik ini
Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya
Sejak awal masuk kelas 8, Briyan memiliki impian besar untuk menjadi Ketua Kelas 8D SMP Negeri 1 Gending demi mempraktikkan visi UTAMA secara nyata. Namun, dalam pemilihan ketua kelas yang berlangsung demokratis, Briyan harus menerima kenyataan bahwa ia kalah berselisih beberapa suara. Meski sempat merasa kecewa setelah persiapan berbulan-bulan, Briyan menunjukkan ketegaran dan jiwa kepemimpinan sejati. Dengan penuh rasa sportif, ia berdiri dan menjadi orang pertama yang memberikan selamat kepada ketua kelas terpilih. Sikap bijak dan ikhlas Briyan membuktikan bahwa karakter UTAMA sejati tidak ditentukan oleh sebuah jabatan, melainkan dari kedewasaan mental dalam menyikapi kegagala
selanjutnya .... klik ini