Sore itu, suasana di lapangan terbuka luar gerbang SMP Negeri 1 Gending terasa tegang. Briyan berdiri berhadapan dengan Mike, Iwan, Zain, Tomi, serta empat teman lainnya. Selisih paham kecil saat pertandingan sepak bola antarkampung tadi siang memicu percikan amarah. Mike yang emosional mengepalkan tangan, menuduh Briyan bermain curang, sementara Iwan dan Tomi mulai memprovokasi suasana agar terjadi perkelahian.
Satu sentuhan emosi saja bisa menyulut keributan di jalanan. Namun, di dalam dada Briyan, gaung nilai-nilai sekolahnya membentenginya dengan kuat. Sebagai siswa SMP Negeri 1 Gending yang memegang teguh visi UTAMA (Unggul, Terampil, Agamis, Mandiri, Anti Narkoba), Briyan tahu betul bahwa masalah tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan atau emosi buta, di mana pun hal itu terjadi.
Briyan menarik napas panjang dan menarik langkah mundur setengah jengkal. Dengan nada suara yang tenang namun mantap, ia menunjukkan kemampuannya yang Terampil dalam berkomunikasi dan mengendalikan diri.
"Teman-teman, dengarkan dulu," potong Briyan halus, menatap mata Mike dan Zain satu per satu. "Kita ini sama-sama pelajar. Kalau kita selesaikan kesalahpahaman ini dengan otot dan amarah, apa bedanya kita dengan orang yang tak terdidik? Jangan sampai emosi sesaat merusak nama baik kita dan masa depan yang sedang kita bangun."
Ia mengingat pesan Bu Nunuk dan prinsip sekolahnya: seorang siswa yang Unggul bukan hanya unggul dalam meraih nilai, tetapi unggul dalam mengendalikan emosi dan memecahkan masalah (problem solving) secara bijaksana. Briyan mengajak mereka duduk bersama di bangku kayu dekat pos ronda setempat untuk membicarakan kejadian di lapangan secara terbuka dan jujur.
Melihat ketenangan dan kedewasaan Briyan, emosi Mike perlahan melunak. Zain dan Tomi yang tadinya siap memicu perkelahian pun terdiam. Briyan secara Mandiri mengakui jika ada kekeliruan dalam keputusan di lapangan tadi, sekaligus meluruskan tuduhan tanpa memojokkan siapa pun.
Setelah kesalahpahaman terurai, Briyan mengajak mereka mengingat ajaran Agamis yang selalu ditekankan di sekolah—bahwa memaafkan dan menjalin silaturahmi jauh lebih mulia daripada memelihara dendam. Tak hanya itu, Briyan juga mengingatkan mereka agar tidak sekali-kali mengalihkan rasa frustrasi atau emosi anak muda ke hal-hal berbahaya seperti nongkrong tak jelas, merokok, apalagi terjerumus pada Anti Narkoba dan zat adiktif.
"Masalah sudah selesai. Jangan sampai karena emosi, kita malah lari ke pergaulan salah atau barang terlarang yang merusak diri," tegas Briyan.
Mike mengangguk pelan lalu mengulurkan tangannya. "Satu sama, Briy. Maafkan aku yang tadi emosi."
Iwan, Zain, Tomi, dan empat teman lainnya ikut tersenyum dan saling berjabat tangan hangat. Sore itu, tidak ada dendam yang tersisa. Briyan telah membuktikan bahwa karakter UTAMA bukan sekadar slogan di atas kertas atau hafalan di dalam kelas, melainkan prinsip hidup yang nyata, yang membimbingnya untuk selalu menyelesaikannya dengan bijak di mana pun ia berada.